CHARACTER ASSASSINATION: Sejak kapan berbeda pendapat adalah bagian dari upaya membunuh

CHARACTER ASSASSINATION

"Sejak kapan berbeda pendapat adalah bagian dari upaya membunuh karakter seseorang, menyatakan kebencian, hingga menghina seseorang di negeri ini?"

Sejak pilkada, sejak pilpres, sejak saya puber dan mabok politik, sejak saya puber dan mabok agama


Sejak kemampuan introspeksi saya mencapai angka NOL.

Sejak saya menjadi juara satu dalam lomba beternak kambing hitam sejagat.

Sejak saya jadi seorang pecundang abadi dan selalu gagal hampir dalam setiap persaingan.

Sejak saya merasa lebih pintar dan alim dari seorang presiden dan ulama

Sejak saya lebih suka membaca sebaris saja postingan omong kosong di medsos dari pada membaca habis sebuah buku karya ahli setebal 600 halaman.

Sejak saya rajin belajar agama dengan niat tidak tulus dan rajin menghafal ayat hanya demi sebagai alat berdebat dan saling serang antar sesama.

Sejak saya merasa lebih ringan membeli gadget harga 2 jutaan dari pada membeli buku seharga 50 ribu rupiah.

Sejak buku-buku di perpustakaan pribadi hanya untuk jadi pajangan dan jual lagak.

Sejak saya jadi pengguna setia produk medsos yahudi, dan bukan sebagai pencipta.

Sejak saya tidak lagi memenuhi mesjid saat jamaah shubuh atau lainnya.

Sejak saya tidak terpengaruh sedikitpun saat adzan berkumandang, dan tetap melanjutkan bermain catur.

Sejak urat malu saya sudah putus dengan taklid buta pada muallaf ahli hayal yang saya anggap sebagai ulama panutan.

Sejak saya bermental pengemis, pemalas, frustrasi, pengangguran dan sangat butuh penyaluran emosi negatif terpendam dengan cara melecehkan orang-orang yang lebih besar dibandingkan dengan diri saya.

Sejak akhlak saya sekarang ini mencapai titik seperti apa yang telah disitir dalam kitab suci: "...bahkan mereka itu lebih rendah daripada hewan" atau:"...hati mereka lebih keras daripada batu, bahkan lebih keras lagi".

Sejak serangan jantung yang saya derita makin ganas dan tekanan darah tinggi saya makin naik secara mengerikan.

Sejak saya sampai aliniea ini tidak mampu lagi melanjutkan daftar berikutnya, saking tak terhitung banyaknya.